April 16, 2026

Danau Fatukoto di TTS.

Kalau ada yang bercerita padamu tentang danau terindah yang pernah dilihatnya, dengan bukit-bukit hijau yang selalu mengagumkan, dia pasti belum datang ke danau Fatukoto.

Danau terindah hanya ada disini. Danau yang jernih, sejernih tatapan perempuan Timor – yang mampu meluluhkan hati ribuan laki-laki penunggu bukit dan padang. Danau yang tak hanya cantik, tapi juga begitu manis. Madu termanis yang diambil oleh para pria gagah dikaki Gunung Molo-pun tak akan mampu menandinginya. Angin sejuk selalu membiarkan daun-daun ampupu menari dalam hening. Sehening malam-malam panjang di pedalaman Molo.

Suatu hari Antonius mengatakan pada saya, bahwa orang-orang kota selalu kesini. Mereka memilih danau ini untuk menenangkan diri. Sejak kanak-kanak kami suka membawa hewan peliharaan kami ke danau ini. Duduk berdua menatap danau dan batu-batu pemali – tempat para leluhur kami menaruh seekor babi dan sebotol arak untuk memohon hujan kepada Uis neno – ketika musim kemarau belum juga beranjak.

“Kenangan tak pernah abadi,” kata Antonius. “ Ketidakabadian itulah yang membuat-nya begitu berharga. Tataplah danau itu, Mince. Rekam baik-baik, dan simpan dalam hatimu.”

Antonius adalah laki-laki penunggu bukit dan padang. Ia suka menjerat burung puyuh. Ia sering berjalan sampai kebalik bukit untuk memasang jerat. Suatu hari Antonius pergi kebalik bukit, dan tak pernah pulang. Padahal seluruh keluarga sudah bersepakat kalau bulan depan ia akan melamarku dengan 2 ekor babi dan 4 ekor sapi.

Di gereja, orang-orang kapan mendoakan arwahnya sembari berbisik-bisik tentang orang yang menculik Antonius. Pastilah mereka preman-preman bayaran, yang menganggap Antonius harus dilenyapkan karena selalu menghasut penduduk untuk menolak tambang. Segalanya memang berubah sejak tambang mulai beroperasi , tak jauh dari danau Fatukoto.

Keindahan memang tak pernah abadi. Bila suatu hari kau datang ke Fatukoto, kau tak akan melihat danau yang terkenal jernih dan cantik itu lagi.

Tapi jangan bersedih. Kalau beruntung, kau masih bisa melihat danau itu di wajah seorang perempuan tua pengunyah sirih, yang setiap hari berdiri di sekitar danau itu. Kami memanggilnya nenek Mince. Ia terus menyimpan keindahan danau itu dalam hatinya. Ia satu-satunya yang mengetahui ketika Antonius dihabisi. Para preman itu memang telah merusak mimpi-mimpinnya, tapi tidak dengan kenangannya.

Penulis: Honing Alvianto Bana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *